Menabung pangkal kaya, begitulah pepatah lama mengatakannya. Dan memang, kebiasaan menabung sejak kecil, disamping untuk mendidiknya agar tak boros, juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan si anak sendiri.
Bagi orang tua yang memiliki penghasilan tidak dari satu satu sumber saja, misalnya disamping dari pendapatan si ayah, si ibu juga ikut bekerja, maka boleh jadi tak cemas dengan keadaan financial rumah tangganya. Namun, untuk keluarga yang hanya memiliki satu sumber pendapatan, apalagi pendapatan yang dihasilkan dari sumber tersebut tak seberapa jumlahnya, tentu harus lebih cerdik mengelolanya agar tak putus di pertengahan bulan.
Dan salah satu pengelolaan keuangan keluarga, disamping kita sebagai orang tua harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, kita juga bisa melibatkan buah hati dalam pengelolaan keuangan keluarga. Hal ini disamping bermanfaat bagi cash flow keuangan keluarga, juga bisa digunakan sebagai sarana untuk mendidik buah hati tentang pengelolaan masa depan. Tentu saja, tingkat pelibatan ini harus sewajarnya saja, jangan sampai membebani anak-anak Anda dengan masalah financial keluarga.
Sebuah buku berjudul ½ Price Living, Rahasia Kehidupan Impian dengan Satu Pemasukan yang ditulis oleh Ellie Kay, menjabarkan tentang pentingnya berbagai pemahaman dengan anak mengenai kondisi keuangan keluarga. Orang tua dapat membantu anak mengatur anggaran untuk dirinya sendiri. Jika mereka mampu melakukannya, anak turut mendukung kestabilan keuangan keluarga. Orang tua bisa memotivasi anak, bila ia tak menghabiskan uang jajan, sisanya boleh ditabung. Dan uang tabungan itu bisa digunakannya kelak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Misalnya bila suatu saat anak Anda merengek minta dibelikan tas bermerk atau mainan canggih yang harganya lumayan mahal. Ajaklah si anak ngobrol santai namun bermakna, seperti misalnya menerangkan pada si kecil tentang perbedaan antara keinginan dengan kebutuhan. Terangkan juga padanya bahwa yang utama dari sebuah barang adalah fungsi, bukan merk. Bisa jadi, barang yang mahal kwalitasnya tak lebih bagus daripada barang yang harganya sedang-sedang saja. Namun, bila si kecil tetap bersikeras ingin barang dengan merk yang sama, ajak si kecil untuk mempunyai kebiasaan menabung. Kelak, dari hasil tabungannya ia bisa membeli barang tersebut dan orang tua akan menambal sisanya.
Dari obrolan ringan tersebut, secara tidak langsung kita berbagi tanggung jawab mengenai masalah keuangan dengan si anak, dan secara tidak langsung bermanfat ganda. Selain membantu menghemat pengeluaran, hal ini juga dapat mengajari anak tentang nilai-nilai etos.
Diskusi tentang cara mendapat uang untuk menabung juga perlu dilakukan. Orang tua dapat memancing ide dari anak-anak tentang kegiatan yang bisa mendatangkan uang tambahan. Misalnya, membuat kue kecil atau es mambo dan mendirikan kios kecil-kecilan untuk menjual kue-kue atau es buatannya.
Blog Archive
Powered by Blogger.
Popular Posts
- Kentut dari Vagina Pasca Melahirkan
- Tips Membuat Anak Pandai Mengunyah
- Cara Membuat Nasi Tim Sayur Untuk Anak Umur 9 – 12 Bulan
- Manfaat Membiarkan Bayi Menangis
- Download Gratis Ebook Tahapan Masa Kehamilan
- Potensi Keberhasilan dan Resiko Program Bayi Tabung
- Mengenali Penyebab Anak Malas Sekolah dan Mencari Solusinya
- Pembiayaan Hidup Anak Pasca Perceraian
- 4 Manfaat Membedong Bayi
- 4 Kiat Melatih Anak bangun Pagi
Thursday, August 2, 2012
Monday, December 26, 2011
Mengenali Penyebab Anak Malas Sekolah dan Mencari Solusinya
Siapapun pasti akan setuju dengan kalimat; pendidikan itu penting. Apalagi pendidikan menyangkut si buah hati. Tapi bagaimana jadinya jika kemudian si buah hati tiba-tiba menjadi malas untuk pergi ke sekolah. Anak kita tiba-tiba mogok sekolah padahalsedang tidak sakit. Sering bangun kesiangan, malas belajar, tidak mau mengerjakan PR, membolos di tengah pelajaran adalah indikasi-indikasi anak mulai tidak mau sekolah. Sebelum terlanjur murka pada sang anak atau menyimpulkan sendiri masalah sang anak berdasarkan asumsi ada baiknya orang tua terlebih dahulu mencari tahu apa penyebab sang anak jadi berlaku seperti itu.Logikanya, tentu ada hal-hal tertentu yang membuat anak menjadi tidak mau sekolah. Jiwa anak begitu sensitive, oleh karenanya Anda perlu tahu apa alasan anak menjadi malas untuk pergi ke sekolah. Inilah kemungkinan-kemungkinan yang melatar belakangi sang anak jadi malas ke sekolah:
- Bisa jadi ada hal tertentu di sekolah yang membuat sang anak takut untuk hadir di sekolah, misalnya teman-teman di sekolahnya yang nakal dan anak tidak berani atau tidak mampu untuk membela dirinya. Bisa juga karena guru yang terlalu killer yang membuat anak menjadi ketakutan setiap kali mengikuti pelajaran sang guru tersebut. Atau bisa juga hal-hal lain yang bersentuhan dengan ketakutannya tapi si anak tidak mau mengatakannya pada Anda.
- Bisa juga karena sang anak sedang mencari perhatian. Kondisi ini bisa saja terjadi, terutama jika sang anak merasa kurang diperhatikan oleh orang tuanya yang mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan sebagainya. Akibatnya sang anak suka membolos hanya karena ingin diperhatikan oleh guru, teman-teman sekolahnya, dan juga orang tuanya.
- Atau bisa juga karena anak kelelahan akibat terlalu banyak dijejali les. Les memang sebenarnya baik untuk sang anak dan bisa membantunya untuk mendongkrak prestasi di sekolah, tapi terlalu banyak les akan membuat fisik dan kejiwaan sang anak menjadi lelah. Akibatnya sang anak pun menjadi malas untuk berangkat ke sekolah.
- Kemungkinan lainnya adalah karena terlalu jauhnya jarak antara sekolah dengan rumah si anak. Adakalanya orang tua menginginkan anaknya bisa bersekolah di sekolah unggulan, meski kenyataannya jarak sekolah itu terlalu jauh dari rumahnya sang orang tua tetap ngotot untuk memasukkan anaknya ke sekolah unggulan tersebut tanpa mempertimbangkan kondisi jarak yang bisa jadi itu akan membuat fisik sang anak jadi kelelahan.
- Dan kemungkinan yang terakhir adalah kurang tepatnya didikan orang tua. Terkadang dijumpai orang tua yang terlalu keras mendidik anak, kurang tepat, bahkan salah. Anak pun bisa kabur dan membolos sekolah sebagai bukti pemberontakannya.
Mencari Solusinya
Jadi, ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda enggan masuk sekolah, sebaiknya Anda segera mempelajari dan memahami kondisi atau permasalahan yang dihadapi anak.
Setelah menemukan permasalahan anak yang sebenarnya, ajaklah anak berdiskusi. Mulai dari keluh kesahnya, keinginannya, dan ajarkan anak untuk mengambil sikap yang bijak untuk mengatasi persoalannya. Jika permasalahan terdapat di sekolah, cobalah Anda bicarakan dengan gurunya. Apabila anak mengalami ketakutan, ajaklah anak untuk mengatasi rasa takutnya dengan mencari tahu cita-cita anak sesungguhnya. Pancinglah anak untuk menggapai impiannyauntuk mengusir rasa takutnya.
Paling penting, saat anak enggan ke sekolah, Anda perlu mendampinginya dengan kesabaran. Bersikaplah bijaksana tanpa menggunakan emosi berlebih saat menghadapi anak yang malas sekolah. Jika anak berkeras tidak mau sekolah, dekatilah anak dengan lembut dan penuh kasih sayang. Lama kelamaan anak akan mengungkapkan masalah dan alasan mengapa ia enggan masuk sekolah. Sebagai orang tua, bantu anak mengatasi masalahnya secara bertahap.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Novita Anggraeni
- Seorang wanita dengan tiga anak. Penyuka dunia tulis menulis, gemar mencoba resep baru di dapur dan senang berbagi.
Klik di Sini
Labels
- Bunda dan Bayi (20)
- Imunisasi (1)
- Kebiasaan Ibu Hamil (5)
- Komunikasi Anak dan Bunda (12)
- Komunikasi Antar Pasangan (8)
- Masalah Anak (13)
- Mencari Solusi (12)
- Pelajaran Sex (1)
- Persiapan Kehamilan (4)
- Seputar Batita (9)
- Seputar Bayi (10)
- Syndrome dan Penyakit (10)
- Tips n Tricks (20)


